foto1
Selamat Datang...
foto1
Mahkamah Syar'iyah Idi
foto1
Pelaksanaan sidang keliling
foto1
Eksekusi cambuk
foto1
Rapat koordinasi
MOTTO INTERN Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas dan Kerja Tuntas MOTTO EKSTERN Bersih dari KKN, Efesien dalam Bekerja, Ramah dan Santun dalam Pelayanan, Efektif dan Humanis ========( B E R E H )======== Terima kasih atas kunjungannya

Mahkamah Syar'iyah Idi

Jl. Banda Aceh – Medan, KM. 381, Paya Gajah, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Propinsi Aceh Telp/Fax : 0646 7025017

Ketua

Drs. Amrullah, M.H.

Motto Kami

Instansi Terkait

Login Form

PROSEDUR BERPERKARA 

DI MAHKAMAH SYAR’IYAH IDI KELAS II  

Prosedur berperkara amat penting diketahui oleh para pihak berperkara, karena proses berperkara adalah proses yang 

akan dihadapi oleh pihak berperkara selama di dalam lingkungan peradilan agama ini.  Dengan mengetahui prosedur 

berperkara para pihak akan tahu apa yang akan dilakukannya. Karena para pihak umumnya belum terbisaa dengan aturan 

hukum yang berlaku pada suatu instansi. Dalam hal ini admin memberikan contoh prosedur berperkara dalam perkara cerai. 

Akan tetapi admin hanya meringkas saja apa yang ada di dalam prosedur berperkara pola Bindalmin. 

  

A. TATA CARA PENGAJUAN PERKARA 

1.  Pada Perkara Perceraian, Pemohon / Suami untuk Cerai Talak atau Penggugat / Isteri untuk Gugat Cerai 

mengajukan permohonan atau gugatan secara tertulis atau lisan ke Mahkamah Syar’iyah; 

2.  Pada perkara lainnya (seperti waris, harta bersama, hibah dsb.) wasiat Pemohon atau Penggugat mengajukan 

permohonan atau gugatan ke Mahkamah Syar’iyah; 

3.  Mahkamah Syar’iyah  dapat membantu  Pemohon atau Penggugat merumuskan permohonan atau gugatan 

dengan membantu membuatkan surat permohonan atau gugatan yang diketahui dan dimengerti oleh Pemohon 

atau Penggugat; 

4.  Pemohon atau Penggugat wajib membayar Panjar Biaya Perkara melalui Rekening BRI No. Rekening..... 

5.  Bagi Pemohon atau Penggugat yang tidak mampu (miskin) dapat beracara secara cuma-cuma (prodeo), dengan 

melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu dari Desa/Kelurahan yang diketahui oleh Camat. 

  

B. PROSES PERSIDANGAN 

1.  Setelah perkara didaftarkan, Pemohon atau Penggugat dan pihak Termohon atau Tergugat serta Turut Termohon 

atau Turut Tergugat menunggu Surat Panggilan untuk menghadiri persidangan; 

2.        Tahapan Persidangan: 

         Upaya perdamaian 

         Pembacaan permohonan atau gugatan 

         Jawaban Termohon atau Tergugat 

         Replik Pemohon atau Penggugat 

         Duplik Termohon atau Tergugat 

         Pembuktian (Pemohon/Penggugat dan Termohon/Tergugat) 

         Kesimpulan (Pemohon/Penggugat dan Termohon/Tergugat) 

         Musyawarah Majelis 

         Pembacaan Putusan/Penetapan 

3.  Setelah perkara diputus, pihak yang tidak puas atas putusan tersebut dapat mengajukan upaya hukum (verzet, 

banding, dan peninjauan kembali) selambat-lambatnya 14 hari sejak perkara diputus atau diberitahukan. 

4.  Setelah putusan mempunyai kekuatan hukum tetap, untuk perkara permohonan talak, Mahkamah Syar’iyah: 

         Menetapkan hari sidang ikrar talak;          Memanggil Pemohon dan Termohon untuk menghadiri sidang ikrar talak; 

         Jika dalam tenggang waktu 6 (enam) bulan sejak ditetapkan sidang ikrar talak, suami atau kuasanya tidak 

melaksanakan ikrar talak di depan sidang, maka gugurlah kekuatan hukum penetapan tersebut dan 

perceraian tidak dapat diajukan berdasarkan alasan hukum yang sama. 

5.     Setelah pelaksanaan sidang ikrar talak, maka harus dikeluarkan Akta Cerai paling lambat 7 hari setelah 

penetapan 

6.     Setelah putusan mempunyai kekuatan hukum tetap, untuk perkara cerai gugat, maka dapat dikeluarkan Akta 

Cerai. 

7.     Untuk perkara lainnya, setelah putusan mempunyai kekuatan hukum tetap, maka para pihak yang berperkara 

dapat meminta salinan putusan. 

8.     Apabila pihak yang kalah dihukum untuk menyerahkan obyek sengketa, kemudian tidak mau menyerahkan 

secara sukarela, maka pihak yang menang dapat mengajukan permohonan eksekusi ke  Mahkamah Syar’iyah 

yang memutus perkara tersebut. 

  

C. UPAYA HUKUM 

1.  Terhadap putusan  Mahkamah Syar’iyah  para pihak yang berperkara dapat mengajukan perlawanan dan/atau 

upaya hukum, yaitu dengan mengajukan verzet, banding, kasasi, dan peninjauan kembali. 

2.  Permohonan Verzet dan banding diajukan ke Pengadilan Agama selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari 

terhitung sehari setelah putusan dibacakan atau diberitahukan kepada pihak yang tidak hadir dalam sidang 

pembacaan putusan. 

3.  Pihak yang mengajukan banding membayar biaya banding; 

4.  Panitera memberitahukan adanya permohonan banding kepada pihak Terbanding dan Turut Terbanding; 

5.  Pihak Pembanding membuat memori banding dan pihak Terbanding mengajukan kontra memori banding; 

6.  Panitera memberi kesempatan kepada kedua belah pihak untuk memeriksa berkas banding (inzaage) di 

Mahkamah Syar’iyah; 

7.  Berkas perkara banding dikirim ke Pengadilan Tinggi selambat-lambatnya satu bulan sejak pengajuan 

permohonan banding; 

8.  Panitera menyampaikan salinan putusan kepada para pihak yang berperkara. 

9.  Apabila para pihak tidak menerima putusan banding, maka para pihak dapat mengajukan upaya hukum kasasi ke 

Mahkamah Agung, yang prosedur dan tata caranya hampir sama dengan prosedur dan tata cara pengajuan 

banding. 

10.  Apabila putusan banding atau kasasi sudah berkekuatan hukum tetap, maka penyelesaiannya sama dengan 

penyelesaian putusan tingkat pertama sebagaimana pada angka 5 s/d 8 pada Proses Persidangan. 

 

Panitera

Khalidah,S.Ag.

Sekretaris

Nizar, S.Ag.

Link Peradilan

 

Statistik Web

Pengunjung
365
Artikel
264
Jumlah Tampilan Artikel
1875400